Now Time

Tuesday, July 18

Menunggu Ketidakpastian


    Langit tetap menghitam. Lembayung mencuat. Kereta terakhir perlahan beranjak meninggalkan tempat singgahya. Mobil-mobil menjauhi stasiun. Semua pergi, kecuali satu. Hujan. Rintiknya tetap menyentuh bumi. Kilat masih menampakkan warnanya. Petir sesekali memperdengarkan nadanya. Rumput bergoyang terkena dampaknya. Dedaunan basah, tidak dapat menolak akibat perbuatan sang hujan. Di balik atap, air perlahan terjatuh. Menimpa ujung sepatu putihku. Percikannya membasahi lantai di sampingku. Nampaknya ia kesal karena tak kugubris. Saat ini sudah purnama kedua sejak aku pertama kali bertemu hujan. Ia tak pernah berhenti mencari perhatianku. Dengan segenap cara, ia selalu berusaha memancingku untuk sekedar melihatnya. Ia selalu menemaniku di sepanjang waktu. Namun tetap tak kuhiraukan hadirnya. Pengganggu, batinku. Biar saja ia berbuat sesukanya. Toh, aku akan terus menunggu matahari. Padahal aku tahu. Esok ataupun lusa. Bahkan sampai kapanpun. Matahari tidak akan pernah mendekatiku.

Bandung, 17 Juli 2017
-White Rose-

Tuesday, July 4

"He’s just my friend."

"He’s just my friend.
"He’s just my friend.
"He’s just my friend.
"He’s just my friend.
"He’s just my friend.
"He’s just my friend.
"He’s just my friend."
" I like him as a best friend." 

Said me to my brain. Don't get any expectation about it. Don't let your ego cover your heart. Ini cuma ujian. Ujian dari Allah. Ayo Nisrina, berpikir jernih.

Bandung, 4 Juli 2017
-White Rose-

Monday, July 3

Kebaikan Laki-laki

Kalau kita lihat, di dunia ini ada banyak sekali laki-laki yang baik. laki-laki yang rajin sekali ke masjid dan tekun sekali beribadah. laki-laki yang gigih sekali belajar dan giat sekali bersekolah. laki-laki yang begitu sungguh-sungguh bekerja dan menjemput nafkah. laki-laki yang sangat setia dan taat kepada kedua orang tuanya. laki-laki yang nyaris tidak punya catatan keburukan. kalau beruntung, kebaikan-kebaikan itu berkumpul di satu orang.

Kalau kita pikir-pikir dan rasakan, mungkin ada laki-laki baik yang berbuat baik kepada kita (perempuan). menjadi sahabat dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. memberikan semangat setiap hari. mengantarkan kita pulang atau pergi. membelikan makanan saat kita sakit. mengirimi kita berbagai kado. menjadi orang pertama yang panik saat sesuatu tak baik terjadi kepada kita. menjadi yang paling penasaran atas tulisan kita atau karya kita. mungkin ada, laki-laki yang menyayangi kita.

Tapi taukah kamu? sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah ibu) seorang perempuan hanyalah satu: melamarnya. kalau ada laki-laki yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum penuh. sebaliknya, pun begitu. dia yang tidak (belum) berbuat apa-apa tetapi melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.

Sebab bukanlah perkara kecil bagi seorang laki-laki untuk meminta perempuan dari orang tuanya. tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu). ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil. ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakkannya di pundaknya sendiri.

Maka janganlah kita perempuan, yang belum menikah, terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. maka tak perlu jugalah kalian laki-laki berbuat baik yang semu-semu itu. salah-salah malah ada harapan tidak perlu yang ikut tumbuh. pada suatu titik semua itu tidak penting. semua itu akan kalah dengan dia yang melangkahkan kaki kepada ayah.

Maka janganlah kita perempuan, yang sudah menikah, iri dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan para laki-laki lain kepada pasangannya. apalagi tergoyahkan kesetiannya karena ada laki-laki yang baik kepada kita. semua itu kalah dengan dia yang telah melangkahkan kaki kepada ayah.


Karena ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu. Maka, hitunglah kebaikan yang satu itu–hitung baik-baik.

Prawita Mutia, Kebaikan Laki-laki