Posts

Kematian

Jam 1.58. "Dek, seorang ke Kemuning 2 ya bawa alat TNSR."
TNSR adalah singkatan dari tensi, nadi, suhu, dan respirasi. TNSR adalah cara untuk mengukur vital sign seseorang. Tanda vital adalah suatu tanda yang bersifat objektif yang dapat berubah setiap saat.
5 menit kemudian gue sampe di bangsal Kemuning. "Pasiennya kritis, Dek. Jaga-jaga aja di sini ya." kata seorang residen menuju senior.
Gue baca di lembar visit. Pasiennya seorang anak laki-laki, berusia 4 tahun. Diagnosisnya tumor jaringan lunak suspek malignan, Rhabdomyosarcoma. Ketika gue dateng, sang pasien sudah dipasang alat pacu jantung (?) dan lagi dilakukan RJP oleh residen junior.
15 menit kemudian, RJP dihentikan dan pasien dinyatakan meninggal........
That moment, melihat manusia meninggal untuk yang kedua kalinya. Rasanya tuh, begitu......menyakitkan. Melihat gimana keluarganya kehilangan. Terlebih ini anak kecil. Harapan kedua orang tuanya ketika mereka besar nanti.
Beberapa detik setelah pasien dinyatakan…

Welcome, November!

Postingan ini seharusnya diketik dan di upload pada tanggal 1 November. Tapi waktu itu gue terlalu stress menghadapi pasien pasak gue yang belum selesai juga, jadilah fokus gue terpecahkan.

     November.      Gue suka November dengan segala kekurangannya. November tidak sesempurna bulan lain yang memiliki jumlah hari sebanyak 31, namun ia tidak seperti Februari yang hari dapat berubah-ubah setiap 4 tahun sekali.
     November. Last but not least. Jika November mendekat, berarti pergantian tahun hampir di depan mata. Tinggal menunggu 60 hari saja sembari menunggu kembang api ditiupkan ke angkasa.
     November.      Bulan favorit gue, karena bertepatan dengan bulan kelahiran gue.
     November.      Tersangka kasus E-KTP, Setya Novanto lahir di bulan November dengan tanggal lahir yang serupa dengan tanggal kelahiran gue.
     Di bulan November juga telah dilahirkan seorang penulis puisi legendaris, yang katanya mengetuk pintu hati jutaan manusia. Dia adalah WS Rendra.

Tujuan?

Semakin bertambahnya usia, semakin menyadari bahwa menikah itu bukan sekedar menyatukan dua insan yang jatuh cinta. Tapi juga how to build your generation. Yap, bagi gue sendiri, menikah itu adalah salah satu langkah gue untuk menciptakan generasi yang cerdas dan bermanfaat bagi agama dan bangsa. *ALHAMDULILLAH, FINALLY GUE MENEMUKAN TUJUAN BUAT NIKAH* Seriously, tujuan ini baru gue dapatkan ketika gue menulis tulisan ini.

     Ketika kamu sudah memiliki tujuan, pasti kamu sudah menyusun strategi untuk melangkah ke depannya. Supaya tujuan kamu semakin dekat untuk dicapai. Jangan terlena juga ketika memiliki sebuah tujuan, kudu menguatkan niat agar target dapat tercapai. Misalnya, kalau ingin memiliki generasi yang cerdas dan bermanfaat bagi agama dan bangsa, yaa berarti dari sekarang gue juga harus cerdas dan bermanfaat dong bagi agama dan bangsa.
     Jadi, sudah melakukan apa untuk agama dan bangsa, Nisrina?
     Ah, tidaaaak. PR gue cukup banyak.
Build your own goal, then write it…

Berharap

Emang ya, kita sebagai manusia gak boleh banget yang namanya berharap sama manusia lain. Boleh sih, tapi kalo berharap sama manusia tuh pasti ada aja rasa sakitnya.

Sudah membuat janji dengan temen sejak seminggu yang lalu untuk menonton film terbaru yang hendak keluar. Ketika hari-H tiba, si teman sakit cacar. Padahal kita sudah menyisihkan uang dan membatalkan agenda dengan teman lainnya. Kecewa? Jelas.
Ibumu menjanjikan untuk membelikan baju baru saat hari raya idul fitri, namun ternyata ada kebutuhan lain yang lebih mendesak, sehingga uangnya dialokasikan untuk kebutuhan tersebut. Kamu sudah berharap memakai baju baru saat lebaran tiba, update foto outfit of the day dengan baju tersebut. Namun apa hasilnya? Yaaaa pasti kecewa sih.
Ngechat gebetan, berharap bisa berbicara panjang lebar ngalor ngidul via chat, eh taunya dibales doi seminggu kemudian. Kecewa? Wah ini sakit yang tak terdefinisi sih.

Masih banyak lagi contoh-contoh kekecewaan apabila kita berharap pada manusia. Sebenernya,…

Just a Random Thought

“Bagaimana jika seorang lelaki soleh datang kepada orang tua kita, namun di hati kita masih menyimpan perasaan terhadap laki-laki lain yang bahkan belum sempat kita utarakan?”    Pertanyaan yang acap kali gue dengar ketika membicarakan perihal kisah cinta dengan beberapa teman yang berada dalam satu lingkaran. Pertanyaan yang selalu berusaha gue cari jawabannya kepada manusia, tapi gak pernah menemukan jawabannya. Pertanyaan yang akhirnya saat ini bisa gue jawab setelah mengubah sudut pandang gue.


     In my humble opinion, ada beberapa hal yang perlu seorang perempuan lakukan sebelum akhirnya lo memutuskan untuk lanjut ke tahapan berikutnya.

  Hal pertama yang harus disadari adalah, pahami bahwa laki-laki yang datang kepadamu memang serius ingin menikah. Kalo cuma bilang, “Gue pengen serius sama lo.” Ah bhay aja itumah. Beda jika kasusnya laki-laki itu beneran datang ke rumah dan meminta langsung kepada orang tua kita. Ini baru harus dipertimbangkan dan pikirkan baik-baik.

Kedua, istik…

Terbaik Versi Diri Sendiri

20 tahun ++, yak lagi-lagi berbicara tentang usia, merupakan fase pencarian. Pencarian yang gak akan pernah habis jika kita terus mencari yang terbaik.

Suatu saat ada seorang teman yang berkata, “Semangat mencari yang terbaik yaa!”

Sontak gue balas pernyataan tersebut dengan pandangan gue, “Hahaha. Jangan semangat mencari yang terbaik, justru semangat menjadi yang terbaik. Karena kalau kita sudah menjadi yang terbaik versi kita, inshaAllah pasti akan mendapatkan yang terbaik juga.”


Jika kita terus mencari pasangan terbaik, zaman now mungkin gak akan pernah ditemukan di muka Bumi ini. Ih si A kurang mancung, si B kurang gemuk, si C lebih muda dari gue, si D pendek. Trus aja kita selalu melihat kelemahan doi sampe si Z yang kurang sabar dan pada akhirnya menemukan bahwa ternyata si A-lah yang terbaik. Rasulullah saja yang se-perfect itu pernah berbuat kesalahan, apalagi kita yang hanya manusia biasa?

     Coba lihat Teh Sonia, istrinya Kang Muzammil. Siapa coba yang gak pengen menjadi …

Bersyukur

“Bun, Bunda lelah gak sih kerja setiap hari? Berangkat subuh pulang sore? Macet-macetan di jalan?” suatu malam aku mengajukan pertanyaan retorika itu kepada Bunda. Pertanyaan yang bahkan aku pun mengiranya dapat menjawabnya dengan tepat.

“Pasti.” aku yakin sekali 100% jawabannya seperti itu.
Tapi apa jawaban Bunda?
“Gaklah, kan Bunda kerja demi anak-anak Bunda.” jawab seorang perempuan yang kupanggil Bunda itu kepadaku melalui speaker di telepon genggamku.
Aku terdiam.
Merasa bersalah karena sudah mengeluh sepanjang hari mengenai rutinitasku yang tak sebanding dengan Bunda. Bunda mengajar untuk mencari nafkah, mengurus anak, mengurus pekerjaan rumah, semua dilakukan seorang diri. Coba bandingkan dengan diriku yang hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang mahasiswa. Aku hanya diminta untuk menyelesaikan masa studiku saja. Gak ada apa-apanya coy. Nyari duit, kaga. Ngurus rumah, boro-boro. Ngurus anak dan suami, belum punya.
Di titik ini aku merasa bahwa dalam kondisi apapun aku harus bersy…